Aku dapat kartu undangan resepsi pernikahan, lucunya aku sama sekali tidak kenal sama yang mengundang, setelah tanya sama teman-teman ternyata pengirim undangan itu salah satu keluarga dari salah satu orang yang saya kenal. Kartu undangannya terbilang mewah ada fotonya calon pengantin yang aku belum pernah melihat wajah mereka berdua.Hari dan tanggal acara resepsi dalam undangan itu bertepatan dengan jadwalku untuk seminggu sekali pulang ke isteri dan anakku yang tinggalnya di luar kota dengan waktu tempuh untuk kendaraan pribadi kurang lebih empat jam tanpa istirahat. Apa yang sebaiknya aku lakukan ?
Konsep kehidupan untuk memandang dunia dan materi biasa-biasa saja tidak berlebihan dengan cara hidup dalam kesederhanaan, menyeimbangkan amalan dunia dan amalan akhirat, bisa menjadi mutiara semangat etika dan moral kehidupan. Ada baiknya ini dikenali dan disadari sejak awal pernikahan dari para calon pengantin untuk kemudian diajarkan dan diteladani anak keturunannya. Dari undangan acara pesta pernikahan yang saya hadiri selama ini , ada fenomena kehidupan sosial yang sedang menjadi tren antara lain kartu undangan dicetak mewah dengan foto calon pengantin, ada souvenir khusus bagi para undangan berupa produk kerajinan (yang kadang tidak ada guna manfaatnya bagi si penerima undangan). Memperhatikan ini saya berpikir, apakah kartu undangan yang mewah dan souvenir yang tidak ada guna manfaatnya itu perlu ? tidak jarang keduanya setelah selesai acara hanya dibuang sembarangan karena tidak ada gunanya lagi buat si penerima undangan. Bisa agak berbeda jika pada kartu undangan itu ditambahkan beberapa lembar halaman yang memuat kalimat-kalimat berupa nasehat bagi kehidupan rumah tangga bahagia yang bersumber dari ajaran agama dan kisah-kisah teladan kehidupan, barangkali ada rasa sayang jika dibuang begitu saja.
Ada terpikirkan, bagaimana jika seandainya pelaksanaan pernikahan itu berjalan sesuai kewajaran namun tidak terlalu merepotkan dan menyibukkan orang lain. Caranya pesta pernikahan sederhana dihadiri kerabat dekat, sedangkan untuk handai taulan lainnya cukup dikirimi pemberitahuan sekaligus permohonan do’a restu bagi kehidupan rumah tangga setelah terlaksananya pernikahan. Kalau tidak mau repot mengirimkan pemberitahuan ke masing-masing alamat handai taulan, bisa saja dinaikkan di salah satu surat kabar harian yang terbitannya bisa menjangkau alamat handai taulan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar